“MANTAN”

                “Mantan”… semua orang pasti mempunyai seseorang bernama mantan yang berasal dari masa lalu kita. Dulu dia yang kita cinta, dia yang kita sanjung dan dia yang sangat kita rindu. Tentu saja dia selalu kan menjadi bagian dalam hidup kita.  Mungkin pernah menjadi seseorang yang terindah dan juga seseorang yang sangat menyakiti kita pada akhirnya. Dulu dia datang yang memberi warna ceria dalam hidup. Akhirnya dia juga yang membuat warna menjadi abu – abu.

                Sampai saat ini aku masih bertanya dalam hatiku. Dulu dia adalah orang yang kita cinta. Tapi mengapa ketika sebuah hubungan berakhir, tak jarang mereka saling mencaci dan mencerca. Ingatkah mereka saat – saat indah merajut kasih, hingga pada akhirnya menghujat mereka ketika semua telah berakhir.

                Cacian, umpatan dan semuanya muncul dengan berbagai cara. Dari telepon, bertemu langsung, melalui pesan singkat atau bahkan social media yang bisa menjadi konsumsi public. Dan aku pun pernah merasakannya dulu. Menghujat mantanku dengan berbagai kata – kata buruk di social media. Mungkin itu proses yang harus di lewati. Masa – masa penuh emosi. Merasa dikecewakan dan tak pernah menerima jika hal itu benar – benar terjadi. Membuat status – status sedih di setiap waktu. Itulah masa – masa yang bodoh yang ku hadapi. Dan kini aku hanya bisa tertawa ketika mengingatnya.

                Suatu hari aku sadari, membuat status sedih berkepanjangan dan mencaci maki mantan di social media gag pernah menyelesaikan masalah. Justru menambah banyak masalah baru. Dan hal itu benar – benar aku alami. Aku pun menyadari sesuatu dari semua itu. Seburuk apa pun dia. Dia adalah orang yang pernah membuat hari – hari kita bahagia, walaupun tidak pada akhirnya. Ketika dia melakukan semua itu pasti dia mempunyai sebab. Kita mungkin tak bisa menjadi yang terbaik untuknya. Atau memang dia adalah orang yang mempunyai sifat seperti itu. Kita juga harus introspeksi diri. Melihat ke dalam diri kita sendiri bagaimana kita? Tidak harus selalu ngejudge dia atau kita yang salah. Bukankah sebuah hubungan dibangun oleh dua orang. Terkadang memang keadaan membuat semua tak lagi sama. Ketika harus berpisah, semua adalah takdir.

                Maafkanlah diri kita sendiri. Jangan pernah menyesal dengan semua yang telah terjadi. Ambil pelajaran dan hikmah dari semua kejadian. Maafkanlah semua kesalahan yang dia buat. Berbaik sangkalah kepada Tuhan. Karena pasti Dia punya rencana yang indah. Pasrahkan semua kepada – Nya. Dan bersyukurlah atas semua yang terjadi. Bukankah lebih baik ketika kita tahu jika dia memang bukan yang terbaik tuk kita. Daripada kita harus menjalani sebuah hubungan yang pada akhirnya hanya akan membuat kita menderita. Melepaskan dia, bukan berarti kita melepaskan semua kebahagiaan kita kan? Masih banyak kebahagiaan yang bisa kita dapatkan.

                Lihatlah mereka keluarga kita, yang selalu mencintai kita. Sahabat kita yang selalu peduli dengan hidup kita. Lihatlah seberapa besar cinta mereka tuk kita. Kita pasti akan sangat bersyukur atas semua itu. Selalu dekatkan diri dengan – Nya, dan hidup akan jauh lebih indah dari yang kita bayangkan. Jika waktu memaksa kita tuk menangis, jangan pernah menunda tuk menangis. Tapi kemudian harus tetap tersenyum kembali. Berpikir positif, dan alam akan mendukungnya. Dan kita juga akan mendapatkan kehidupan yang positif juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s